Aqiqah Bukan di Hari Ketujuh, Gimana?

HUKUM aqiqah bagi komentar yang sangat kokoh merupakan sunah muakkadah, serta ini merupakan komentar jumhur ulama bagi hadits.

Para ulama setuju kalau yang disunnahkan dalam menyembelih hewan aqiqah merupakan para hari ketujuh, ialah kala seseorang balita sudah berumur 7 hari, terhitung semenjak ia lahir awal kali di dunia ini.

Dasarnya merupakan sebagian hadits berikut ini:

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahuanhu kalau Rasulullah SAW bersabda,” Anak pria tergadaikan dengan hewan aqiqahnya, hingga disembelihkan untuknya pada hari ke 7, diberi nama kemudian digunduli.( HR. Abu Daud).

Dari Aisyah radhiyallahuanha kalau Rasulullah SAW menyembelihkan hewan aqiqah buat Hasan serta Husain alaihimassalam pada hari ketujuh serta berikan nama keduanya.( HR. Al- Baihaqi).

Tetapi para ulama berbeda komentar tentang boleh ataupun tidak bolehnya menyembelih aqiqah apabila waktunya bukan pada hari ketujuh.

1. Al- Malikiyah Aqiqah Tangerang

Mazhab Al- Malikiyah menetapkan kalau waktu buat menyembelih hewan aqiqah cuma pada hari ketujuh saja. Di luar waktu itu, baik tadinya ataupun juga sesudahnya, bagi mazhab ini tidak lagi disyariatkan penyembelihan. Maksudnya cuma legal dicoba pada hari ketujuh saja.[1]

2. Asy- Syafi’ iyah

Komentar mazhab Asy- Syafi’ iyah lebih luas, sebab mereka membolehkan aqiqah disembelih walaupun belum masuk hari ketujuh. Serta mereka juga membolehkan disembelihkan aqiqah walaupun waktunya telah melalui dari hari ketujuh.

Dalam pemikiran mazhab ini, menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh merupakan waktu ikhtiyar. Artinya waktu yang hendaknya diseleksi. Tetapi seandainya tidak terdapat opsi, hingga boleh dicoba kapan saja.[2]

3. Al- Hanabilah

Mazhab Al- Hanabilah berkomentar kalau apabila seseorang bapak tidak sanggup menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran bayinya, hingga ia masih dibolehkan buat menyembelihnya pada hari keempat- belas.

Serta apabila pada hari keempat- belasnya pula tidak sanggup melaksanakannya, hingga boleh dikerjakan pada hari kedua- puluh satu.[3]

Ibnu Hazm mengatakan kalau tidak disyariatkan apabila menyembelih hewan aqiqah saat sebelum hari ketujuh, tetapi apabila melalui dari hari ketujuh tanpa dapat menyembelihnya, baginya perintah serta kewajibannya senantiasa berlaku hingga kapan saja.

Hanya catatan, Ibnu Hazm tercantum golongan yang mengharuskan penyembelihan hewan aqiqah. Sehingga sebab dalam anggapannya harus, hingga apabila tidak dikerjakan, harus buat ditukar ataupun diqadha’. Serta qadha’ itu senantiasa berlaku hingga kapan juga.

Leave a Reply