Kemandirian Alkes dan Farmasi Terus Dikejar

Kemandirian Alkes dan Farmasi Terus Dikejar

KEMANDIRIAN hidup sehat, di awali berasal dari lingkup keluarga, berperan penting dalam menaikkan derajat kebugaran masyarakat. Agar makin optimal, usaha keluarga selanjutnya termasuk kudu didukung pemerintah dalam sediakan fasilitas dan prasarana kebugaran yang memadai. Salah satunya ialah bersama dengan mewujudkan kemandirian prasarana. Alat kebugaran (alkes) ialah keliru satu prasarana yang mutlak dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama dengan berbagai unsur mengusahakan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang miliki kemandirian di bidang alat kesehatan.

“Saat ini alat kebugaran yang beredar di Indonesia masih didominasi product impor. Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk kurangi ketergantungan terhadap alat kebugaran impor selanjutnya dan berubah menuju kemandirian alat kesehatan,” ujar Menteri Kesehatan Nila F Moeloek dalam pembukaan pameran Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-53, di JI-Expo, Jakarta, Kamis (9/11). Upaya Kemenkes menyelenggarakan pameran alat kebugaran dalam negeri yang sudah terjadi tiga th. belakangan, atau sejak 2015, sudah tunjukkan hasil yang signifikan. Data berasal dari Kemenkes menyebutkan, saat ini di Indonesia ada 719 fasilitas produksi yang dapat produksi 294 jenis alat kesehatan. Jumlah fasilitas produksi alat kebugaran selanjutnya meningkat jikalau dibandingkan bersama dengan th. pada mulanya sebanyak 517 sarana distributor alat kesehatan .

Sementara itu, jenis alat kebugaran yang diproduksi termasuk meningkat sebanyak 32 jenis berasal dari th. pada mulanya yang cuma produksi 262 alat kesehatan. “Dengan kemampuan tersebut, industri alat kebugaran dalam negeri saat ini sudah dapat mencukupi lebih tidak cukup 50% standar fasilitas alat kebugaran di tempat tinggal sakit jenis A, B, C, dan D,” ujar Nila. Saat ini, industri dalam negeri sudah dapat produksi alat kebugaran teknologi rendah sampai menengah. Mulai tempat tidur pasien, lensa kontak, dental chair, sampai reagen kimia klinik dan imunologi. Katalog-e Berbagai upaya, dikatakan Nila, ditunaikan untuk menopang pemaksimalan pemanfaatan alkes produksi dalam negeri tersebut.

Salah satu usaha yang sudah ditunaikan ialah mengadakan nota kesepahaman (MoU) bersama dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) untuk memprioritaskan pemanfaatan alkes dalam negeri bersama dengan pembelian melalui katalog-e. “Kemenkes termasuk sudah memberlakukan usaha percepatan perizinan bersama dengan mengembangkan keinginan perizinan secara tunggal, single submission dan single risk management. Sistem selanjutnya dikehendaki dapat mempercepat saat layanan, khususnya di fasilitas izin alat kebugaran dan farmasi, termasuk untuk mempercepat aktivitas ekspor dan impor. Kemenkes merupakan kementerian ke-5 yang sudah menerapkan sistem tersebut,”

ujar Nila. Untuk menyosialisasikan upaya-upaya pembangunan di bidang kesehatan, Kemenkes dan lintas sektor berkaitan pun menghelat Pameran Pembangunan Kesehatan dan Teknologi Alat Kesehatan Dalam Negeri terhadap 9-11 November lalu. Pameran itu memiliki tujuan mengenalkan dan menaikkan pemanfaatan alkes dalam negeri. Pameran selanjutnya termasuk alur acara peringatan Hari Kesehatan Nasional Ke-53 yang puncaknya digelar di tempat hari bebas kendaraan bermotor di Jalan Sudirman-MH Thamrin, Jakarta, kemarin. “Diadakan pameran produksi obat dan alat kebugaran dalam negeri sebagai keliru satu usaha Kemenkes dalam implementasi Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Kami menghendaki melalui aktivitas ini sektor-sektor berkaitan dapat bertemu,” ujar Nila. (S-2)

Leave a Reply