Persaingan Antara Dua Negara ASEAN

Persaingan Antara Dua Negara ASEAN

Persaingan kedua negara ASEAN, Indonesia dan Malaysia telah berlangsung selama bertahun-tahun, termasuk implementasi MEA di indonesia. Padahal, ketegangan antara kedua negara sudah dimulai sejak era Presiden Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia dan Tunku Abdul Rahman, perdana menteri pertama Malaysia. Ada banyak faktor yang memicu persaingan antara kedua negara, seperti politik, konflik perbatasan, klaim Malaysia atas warisan budaya Indonesia, perlakuan kejam terhadap pekerja Indonesia oleh majikan Malaysia, hilangnya daya saing Malaysia dalam musik pop dan budaya populer lainnya, kemenangan dan Kalah dalam ajang olah raga timnas kedua negara, Malaysia yang mengekspor teroris membuat situasi kacau di Indonesia sehingga citra Indonesia buruk dimata investor asing dan Malaysia akan meraup keuntungan menjadi pilihan akhir berinvestasi karena itu. memiliki citra positif sebagai negara yang stabil dan aman, dan sebagainya. Persaingan ini seperti gunung berapi yang setengah tidak aktif yang dapat meledak dengan sebab apa pun kapan saja.

Dalam banyak kasus, pihak Malaysia telah mengambil peran aktif dalam memicu kekacauan. Contoh penghasutan terbaru adalah penggunaan iklan rasis oleh RoboVac Malaysia, sebuah perusahaan yang menjual penyedot debu robotik yang iklan spanduknya berbunyi: ‘Tembak pembantu Indonesia Anda sekarang’ dan beli penyedot debu otomatis RoboVac. Iklan ini dianggap penghinaan oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia. Itu muncul hanya beberapa hari sebelum kunjungan resmi Presiden Jokowi ke Malaysia. Iklan tersebut telah menimbulkan kemarahan yang meluas dengan orang Malaysia di Indonesia dan itu menjadi pembenaran lain atas tuduhan bahwa orang Malaysia selalu sengaja membuat masalah untuk memicu perselisihan dengan orang Indonesia. Pemerintah Indonesia selalu menunjukkan sikap kakak dalam menangani konflik dengan orang Malaysia, sikap yang terkadang membuat marah banyak orang Indonesia yang tidak bisa menganggap enteng hinaan itu. Mereka ingin pemerintah Indonesia lebih tegas terhadap pemerintah Malaysia dan Malaysia.

Dalam hubungan timbal balik antara kedua belah pihak, kedua belah pihak harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga kestabilan hubungan jika dimaksudkan untuk berlangsung lama. Anda tidak bisa mengharapkan pasangan Anda untuk selamanya memiliki sikap pemaaf terhadap perilaku nakal Anda yang dapat merusak hubungan. Dalam kasus hubungan Indonesia dan Malaysia, orang Indonesia merasa terus menerus disakiti, disiksa, dan dihina oleh orang Malaysia. Orang Indonesia selalu berada di pihak yang kalah dalam konflik mereka dengan orang Malaysia. Dalam konflik perbatasan beberapa tahun lalu, Indonesia kehilangan Kepulauan Sipadan dan Ligitan. Dari segi status sosial, orang Malaysia menganggap orang Indonesia sebagai orang inferior, orang bodoh yang hanya bisa menjadi pembantunya. Itulah alasan mengapa mereka menciptakan istilah yang merendahkan “Indon” untuk menyebut orang Indonesia dan menggunakannya dalam situasi formal hingga diprotes oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 2007. Mereka telah berusaha mendaftarkan banyak warisan budaya Indonesia tetapi gagal karena Indonesia memprotes. Berita tentang TKI yang menjadi korban KDRT di Malaysia sudah menjadi hal yang sangat lumrah. Perlakuan kasar terhadap pekerja Indonesia oleh majikan Malaysia di Malaysia berulang kali memicu kemarahan yang meluas di kalangan masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia menerapkan moratorium pengiriman TKI di sektor informal selama dua tahun beberapa tahun lalu karena perlakuan buruk terhadap TKI oleh banyak majikan Malaysia.

Mungkin, orang Indonesia dibutuhkan sekaligus dibenci di Malaysia. Mereka dibutuhkan karena mereka siap melakukan pekerjaan di sektor informal yang mungkin tidak disukai orang Malaysia. Beberapa orang Malaysia mungkin tidak menyukainya karena jumlah orang Indonesia di Malaysia terlalu banyak. Mereka mungkin dipandang sebagai ancaman oleh orang Malaysia. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa orang Malaysia membutuhkan para pekerja ini. Perekonomian Malaysia akan terpengaruh jika semua TKI tiba-tiba mengundurkan diri dan kembali ke Indonesia. Fakta ini mungkin hanya diakui oleh sebagian kecil orang Malaysia. Alasan pekerja Indonesia disukai oleh majikan Malaysia adalah karena kedua negara tersebut memiliki banyak kesamaan, seperti kesamaan bahasa, tradisi, dan mungkin agama. Banyak orang Indonesia mencari pekerjaan di Malaysia karena lowongan kerja melimpah dan bayaran untuk jenis pekerjaan yang mereka lakukan jauh lebih tinggi di Malaysia daripada di negara mereka sendiri. Nampaknya ketegangan hubungan kedua negara tidak akan pernah surut kecuali jika kedua belah pihak bersedia mengoreksi sikapnya dan bersedia saling menghormati.

Leave a Reply